Senin, 14 Februari 2011

PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, DAN CIRI-CIRI EVALUASI HASIL BELAJAR PAI


A. Pengertian Evaluasi Hasil Belajar PAI
Secara etimologi, kata evaluasi berasal dari bahasa Ingris evaluation. Kata evaluation dalam bahasa Indonesia berarti penilaian, sementara dalam bahasa Arab berarti al-taqdir. Kata evaluation ini berasal dari akar kata value yang berarti nilai. Sehingga dari perspektif ini, tersinyalir adanya kesamaan makna antara “evaluasi” dan “penilaian”. Sementara secara istilah, evaluasi (dan atau penilaian) adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Jika definisi tersebut dikaitkan dengan ‘hasil belajar’, evaluasi berarti suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai keberhasilan belajar seseorang (siswa) setelah melakukan proses pembelajaran. Dan jika dikaitkan dengan ‘hasil belajar PAI’, berarti suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai keberhasilan siswa setelah melakukan proses pembelajaran PAI.
Yang harus dipegang --dan terus diingat-- dari definisi di atas adalah, adanya suatu “tindakan atau proses” tertentu yang harus dilakukan sebelum mengadakan suatu penilaian. Tindakan atau proses tersebut adalah “pengukuran (measurement)”. Jadi, sebelum menilai sesuatu, kita harus mengukur terlebih dahulu sesuatu itu. Mengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar suatu ukuran. Sebagai contoh, misalnya kita hendak menilai kepadatan tol Cikampek menjelang lebaran. Kita belum bisa menilai bahwa tol Cikampek menjelang lebaran, “padat atau tidak”, sebelum kita melakukan pengukuran. Pengukuran di sini berupa penentuan. Misalnya, berapa kendaraan yang melintas dalam satu menitnya. Setelah membuat penentuan, selanjutnya kita menerapkan norma atau pedoman yang kita gunakan dalam menilai. Misalnya, jalan dikatakan padat jika dalam satu menit minimal ada seratus kendaraan yang melintas. Baru setelah itu, penilaian bisa kita lakukan. Jika dalam satu menit ada seratus atau lebih kendaraan yang melintas, maka dapat kita nilai bahwa tol Cikampek menjelang lebaran ”padat”, dan jika kurang dari seratus, maka tol Cikampek kita nilai ”tidak padat”.
Dari contoh di atas, dapat dilihat perbedaan antara penilaian dan pengukuran. Penilaian bersifat kualitatif, sekaligus merupakan jawaban dari pertanyaan ”what value” (ramai/tidak ramai, pandai/kurang pandai, menguasai/kurang menguasai, berhasil/gagal dan lain-lain). Sementara, pengukuran bersifat kuantitatif sekaligus merupakan jawaban dari pertanyaan ”how much” (berapa banyak, berapa panjang, berapa lama dan lain-lain). Akan tetapi, antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa, penilaian tidak dapat dilakukan tanpa didahului oleh pengukuran, dan pengukuran tidak berarti apa-apa jika kemudian tidak dilakukan penilaian. Baik buruknya suatu evaluasi atau penilaian bergantung pada hasil-hasil pengukuran yang mendahuluinya. Hasil dari pengukuran tersebut berupa angka-angka (kuantitatif). Angka-angka inilah yang kemudian ditafsirkan sehingga menjadi penilaian. Akan tetapi tidak semua penafsiran itu bersumber dari keterangan-keterangan yang bersifat kuantitatif. Seperti menafsirkan informasi tentang anak yang berasal dari keterangan orang tua, dan lain-lain. Begitu juga dengan pembelajaran, ada beberapa bidang studi yang bisa diadakan penilaian dengan tanpa melakukan pengukuran terlebih dahulu. Seperti PAI, keterampilan dan lain-lain. Cara yang kemudian ditempuh sebelum menilai adalah, dengan melakukan observasi (pengamatan).
Dalam uraian di atas, tidak dibedakan antara evaluasi dengan penilaian. Sementara pendapat lain mengatakan bahwa evaluasi berbeda dengan penilaian. Pendapat terakhir ini mengatakan penilaian yang didahului dengan pengukuran itulah yang disebut evaluasi. Dengan kata lain, evaluasi adalah pengukuran terhadap suatu hal yang kemudian dilanjutkan dengan penilaian terhadap hal tersebut. Sungguhpun tingkat keberhasilan siswa dalam belajar tidak semata-mata bergantung pada guru, karena disamping guru masih banyak komponen lain yang turut mempengaruhi keberhasilan siswa seperti: siswa itu sendiri, bahan pelajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi, akan tetapi guru adalah sentral atau koordinator bagi penunjang lain tersebut, sementara evaluasi sendiri masih merupakan komponen yang paling tepat digunakan untuk menilai kemajuan belajar siswa, maka menguasai konsep-konsep evaluasi bagi setiap guru menjadi sebuah keniscayaan.
B. Tujuan Evaluasi Pendidikan
Evaluasi memiliki banyak tujuan. Tujuan tersebut dapat diklasifikasi-kan ke dalam dua kelompok, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan evaluasi secara umum adalah:
1. untuk mendapatkan data-data pembuktian tetang kemajuan siswa setelah mengikuti pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2. untuk mengetahui tingkat efektifitas metode yang digunakan guru dalam mengajar.
Sedangkan tujuan evaluasi secara khusus adalah:
1. untuk memotivasi anak dalam belajar
2. untuk mencari faktor-faktor penyebab keberhasilan dan kegagalan siswa dalam mengikuti program Pendidikan.
C. Fungsi Evaluasi Pendidikan
Selain memiliki banyak tujuan, evaluasi juga memiliki berbagai macam fungsi, sesuai dengan ragam evaluasi itu sendiri. Akan tetapi, secara garis besar fungsi-fungsi tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu fungsi secara umum dan fungsi secara khusus. Secara umum evaluasi berfungsi untuk:
1. mengukur kemajuan (atau perkembangan program yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah dirumuskan).
2. menunjang penyusunan rencana -evaluasi- (jika dalam pelaksanaannya terdapat kejanggalan-kejanggalan yang mengharuskan adanya re-planning).
3. memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali. (perbaikan usaha tanpa didahului oleh kegiatan evaluasi adalah tidak mungkin. Karena untuk mengadakan perbaikan harus diketahui apa yang harus diperbaiki, dan untuk mengetahuinya itu lewat evaluasi)
Adapun secara khusus evaluasi berfungsi:
1. segi psikologis:
Bagi siswa: menunjukkan kapasitas / status diri siswa di kelasnya (apakah termasuk siswa yang pandai, sedang, atau bodoh).
Bagi guru: menginformasikan seberapa jauh usaha yang dilakukan guru sudah membawa hasil.
2. secara didaktik
Bagi siswa: memberi motivasi bagi siswa dalam meningkatkan belajarnya.
Bagi guru:
a. sebagai diagnostik (mencari kelemahan siswa di dalam mengikuti pembelajaran.
b. menginformasikan tetang di mana siswa harus diposisikan (pembagian kelas A, B, C).
c. penentuan naik / lulus atau tidaknya siswa.
d. menjadi pertimbangan dalam memberikan bimbingan: bagaimana belajar yang baik, mengatur waktu dan lain-lain.
e. menginformasikan sejauhmana program pengajaran yang telah ditentukan sudah dicapai
3. secara administratif:
a. memberikan laporan (mengisi raport, KHS)
b. memberikan data tentang siswa layak dinaikkan / diluluskan atau tidak.
3. memberikan gambaran (bidang-bidang tertentu maju dan bidang-bidang yang lain kurang).
D. Ciri-ciri Evaluasi Pendidikan
Sebagai komponen dalam pembelajaran, evaluasi mempunyai ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri tersebut antara lain:
1. dilakukan secara tidak langsung. Maksudnya, dalam evaluasi yang diukur kemudian dinilai bukanlah kepandaian atau kebodohan anak, akan tetapi tanda-tanda kepandaian atau kebodohannya.
2. penggunaan ukuran kuantitatif (menggunakan simbul bilangan sebagai hasil pertama pengukuran).
3. menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap. Seperti sangat memuskan, memuaskan, kurang memuaskan, tidak memuaskan dan lain-lain.
4. bersifat relatif. Nilai seorang siswa tidak selalu tetap dari waktu ke waktu. Artinya, sangat mungkin seorang anak nilainya berubah-ubah.
5. dalam melakukan penilaian sering terjadi kesalahan-kesalahan. Sedangkan sumber-sumber kesalahan terletak pada:
a. alat ukur (soal tes).
b. penilai (guru). Dalam hal ini guru:
1) bertindak subjektif. Misalnya risau ketika mengoreksi, tulisan yang dihadapi jelek dan lain-lain.
2) cenderung (ke)murah(an) atau (ke)mahal(an) dalam memberi nilai. Misalnya untuk jawaban yang salah skornya 2 / 0.
3) adanya kesan penilai terhadap siswa, baik dari guru lain atau diperolehnya sendiri ketika mengampu mapel lain.
4) adanya pengaruh dari hasil yang diperoleh terdahulu.
5) kesalahan dalam menjumlah skor
c. yang dinilai (murid)
1) siswa sedang resah ketika sedang dinilai (mengerjakan soal).
2) siswa sedang sakit fisik ketika sedang dinilai.
3) ada gangguan terhadap kelancaran mengerjakan soal.
d. situasi di mana penilaian berlangsung
1) adanya kegaduhan (di dalam maupun di luar ruang) yang mengganggu konsentrasi.
2) pengawasan dalam penilaian.

E. Manfaat Evaluasi Pendidikan
Sebagai komponen yang sangat berarti dalam proses pembelajaran, evaluasi memberikan banyak manfaat. Adapaun manfaat-manfaat tersebut antara lain:
 Bagi siswa: menjadi motivasi, baik ketika hasil evaluasinya memuaskan maupun tidak memuaskan.
 Bagi guru:
1. Guru mengetahui mana-mana siswa yang berhak, dan atau tidak, melanjutkan pelajaran.
2. Guru mengetahui apakah materi yang disampaikan sudah tepat / belum.
3. Guru mengetahui apakah metode yang digunakannya tepat / belum.
 Bagi sekolah:
1. hasil evaluasi memberi gambaran apakah kondisi belajar yang diciptakan sekolah, sesuai dengan harapan atau belum.
2. informasi hasil penilaian dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, sudah memenuhi standar atau belum.
Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa depan

FUNGSI EVALUASI
Mengukur kemajuan
Menunjang penyusunan rencana
Memperbaiki/menyempurnakan kembali

mengenal kapasitas
dan status dirinya






Kepastian tentang
hasil usahanya


motivasi peningkatan
prestasi





Diagnostik
Penempatan
Selektif
Bimbingan
Instruksional




memberikan laporan
memberikan data
memberikan gambaran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar