Selasa, 19 Juni 2012

CARA MENGHITUNG KKM (KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL)


Sebagai pijakan bagi suksesnya berbangsa dan bernegara, sudah seharusnya pemerintah senantiasa mengontrol kualitas pendidikan yang ada. Mulai dari kurikulum, sarana, tenaga pendidik bahkan sampai standar kelulusan. Semua adalah hal yang memang seharusnya dilakukan. Berkaitan dengan hal yang disebutkan terakhir, pemerintah telah memberikan pedoman atau rumus yang bisa dijadikan pijakan bagi setiap guru di semua sekolah  di tanah air. Sebuah pedoman yang realistis, karena mempertimbangkan apa yang ada di sekolah bersangkutan.
Pedoman yang selanjutnya dikenal dengan istilah Kriteria Ketuntasan Minimal atau sering disingkat dengan KKM ini, dikonstruk dari berbagai hal yang mana hal tersebut berkaitan erat dengan faktor yang harus dilibatkan dalam mencapai kompetensi di setiap mata pelajaran. Hal tersebut antara lain: tingkat kesukaran materi, sarana yang tersedia dan kemampuan siswa. Berikut adalah langkah-langkah dalam menentukan KKM:
1.     Hitunglah jumlah Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran setiap kelas.
2.     Tentukan kekuatan / nilai untuk setiap aspek / komponen sesuai dengan kemampuan masing-masing aspek.
a.     Aspek kompleksitas. Semakin komplek (sukar) KD maka nilainya semakin rendah, dan semakin mudah KD maka nilainya semakin tinggi.
b.    Aspek sumber daya pendukung (sarana). Semakin tinggi sumber daya pendukung maka nilainya semakin tinggi.
c.     Aspek intake. Semakin tinggi kemampuan awal siswa (intake) maka nilainya semakin tinggi pula.
3.     Jumlah nilai setiap komponen, selanjutnya dibagi tiga untuk menentukan KKM setiap KD.
4.     Jumlahkan seluruh KKM KD, selanjutnya dibagi dengan jumlah KD untuk menentukan KKM mata pelajaran
5.     KKM setiap mata pelajaran pada setiap kelas tidak sama, tergantung pada kompleksitas KD, daya dukung, dan potensi siswa.
Lebih jelasnya berikut penulis sajikan contoh tabelnya:
Description: C:\Documents and Settings\aziz\My Documents\Downloads\cara-menghitung-kkm-kriteria-ketuntasan_files\kkm1.jpg

Selasa, 12 Juni 2012

CONTOH JUDUL SKRIPSI JURUSAN PENDIDIKAN

1.  Peranan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) terhadap Minat Wiraswasta Anak Tunarungu Wicara Lanjutan SLB…..
2.  Kadar Penerapan Prinsip-Prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dalam Pengajaran Kimia Pokok Bahasan Struktur Atom pada Beberapa SMA Negeri Di Kabupaten ......
3.      Peningkatan Prestasi Belajar Matematika melalui Pembelajaran Remedial Siswa Kelas….. SDN ..... Tahun Pelajaran .....
4.    Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru pada Pendidikan Ahli Madya Fisioterapi ….. Tahun .....
5.    Laporan Observasi Program Pengalaman Lapangan Di Sekolah Teknik Menengah (STM) Negeri ..... Tahun Ajaran…..
6.    Studi Komparasi Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Metode Percobaan dan Metode Diskusi Kelompok pada Siswa Kelas…..SD ..... dan SD ..... Tahun Ajaran .....
7.  Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat Ekonomi Orang Tua dengan Prestasi Belajar Bidang Studi…..Siswa ..... Tahun Pelajaran .....
8.  Pengaruh Mata Pelajaran Permesinan dan Pengepasan dan Pendidikan Sistem Ganda terhadap Minat Berwiraswasta Siswa Kelas III Jurusan Mesin Tenaga Sekolah Menengah Kejuruan ..... Tahun Pelajaran .....
9.  Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Matematika melalui Pemberdayaan Alat Peraga pada Siswa Kelas ..... SD ..... Tahun Pelajaran.....
10.Pengaruh Mengikuti Proses Pendidikan Luar Sekolah dan Prestasi Belajar terhadap Kesiapan Memasuki Pasar Kerja Siswa ..... Tahun Pelajaran.....
11. Studi Komparasi Minat antara Pria dan Wanita Ditinjau dari Prestasi Kerja Praktek Siswa Kelas….. SMP Negeri ..... Tahun Pelajaran .....
12. Pengaruh Persepsi Mengenai Lapangan Kerja dan Minat Memasuki Sekolah Kejuruan Teknik terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas I Rumpun Mesin STM ..... Tahun Ajaran .....
13. Studi Komparasi antara Prestasi Belajar Mata Kuliah Ilmu Bahan Para Mahasiswa Asal STM dengan Asal SMA Program TMK Jurusan ..... Universitas ..... Tahun Ajaran.....
14. Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia (Membaca) melalui Pembelajaran       Kelompok (Partisipatif) Siswa Kelas..... SD Negeri ..... Tahun Pelajaran.....
15.  Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Dengan Penggunaan alat Peraga Busur Derajat pada Siswa Kelas….. SD ….. Tahun Pelajaran …..
16.  Pengaruh Kenalakan Remaja Terhadap Prestasi Belajar Siswa….. Tahun Pelajaran …..
17.  Peningkatan Prestasi Belajar IPS melalui Strategi Belajar Kelompok di Kelas ….. pada SD ….. Tahun Pelajaran …..
18.  Studi Komparasi Prestasi Belajar Mata Pelajaran…. Sub Pokok Bahasan….. antara Siswa yang Diajar Menggunakan Metode….. dengan Siswa yang Diajar Menggunakan Metode….. pada ….. Tahun Pelajaran …..
19.  Pengaruh Penggunaan Media OHP dan Tanpa Penggunaan Media OHP dalam Metode    Ceramah terhadap Prestasi Belajar ….. Siswa kelas ….. Semester ….. Jurusan ….. Sekolah ….. Tahun Ajaran…..
20.  Faktor yang Mempengaruhi Praktek Kerja Bangku Siswa STM….. Tahun Ajaran …..
21. Studi Komparasai Tingkat Kesadaran Moral Siswa Warga Negara Indonesia Asli dan   Keturunan Pada Kelas….. SMA….. Tahun Ajaran …...
22.  Pengaruh Minat Belajar Fisika Pendidikan dan Penghasilan Orang Tua terhadap Prestasi   Belajar Fisika pada Siswa Program A1 Di ….. Tahun Ajaran…..
23. Prestasi Belajar Kimia Sub Pokok Bahasan Termokimia Ditinjau dari Tingkat      Kemampuan Intelektual dan Pendekatan Pengajaran Pada Kelas ….. SMA ….. Tahun …..
24.  Studi Korelasi Kemandirian dalam Belajar dan Penguasaan Materi …… Kelas ….. dengan Prestasi Belajar ….. pada Siswa Kelas ….. SMA ….. Tahun Ajaran …..
25.  Peningkatan Prestasi Belajar ….. melalui Penggunaan Alat Peraga ….. Siswa Kelas ….. SD ….. Tahun Pelajaran …..

Senin, 11 Juni 2012

JUDUL-JUDUL SKRIPSI FAK. DIRASAH ISLAMIYAH


كلية دراسة الإسلامية
1.  موقف الفقهاء من الموسق والغنى
2.  قطر الغيث (دراسة و تحقيق)
3.  منهج فخر الرازفى تفسير سورة الفاتحة
4.  منهج حنفية فى طرق الدلالة الألفاظ الأحكام
5.  رسالة أهل السنة والجماعة فى حديث الموتى وعشرة الساعة وبيان السنة والبدعة (التحقيق)
6.  نكاح المسلم بالكتابية عند مذهب الأربعة
7.  قضية الزواج بغير المسلمين فى النظر الإسلام
8.  حكم المغالات فى المهر
9.  تعدد الزوجات فى الإسلام وظهره الإجتنجيات
10.                   الخيار فى عقد الباع وموقف الفقهاء منه
11.                   القضية الخطبة على الخطبة وما يتعلق بها من أحكام
12.                   الكفاعة فى الزواج عند أعمة الأربعة
13.                   قضية الحجاب والنقب عند فقهاء العصر الحديث
14.                   الخط الكوفى وصلته بالفن الزهرف
15.                   الرهن بين النظارية والتطبيق
16.                   نظرية الإمامة عند ابن حجر الأثقلنى فى كتابه فتح البر
17.                   فضل حفظ القرآن وحفاظه وعقبة من نسيه فى .....

Kamis, 03 Mei 2012

5 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan Orangtua Kepada Anak


Bukan rahasia lagi, orangtua harus memperhatikan cara mereka berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Apa yang kita katakan --dan cara kita mengatakannya--  adalah masalah penting. Cara komunikasi orangtua akan memberi dampak pada hubungan orangtua-anak dalam jangka panjang.

Kalimat sederhana yang keluar dari mulut orang tua saat sedang frustrasi dapat berdampak besar.

"Kata-kata bisa menyakitkan dan tidak bisa ditarik ulang, jadi berhati-hatilah," ujar Debbie Pincus, seorang terapis, pembimbing orangtua dan penulis "The Calm Parent: AM & PM".

"Kita manusia. Kehidupan kita gila-gilaan dan kadang kita tidak memberikan waktu beristirahat dan berpikir kepada diri sendiri," ujar Pincus. “Hanya berhati-hatilah dan bertanggung jawab, dengan siapa pun kita berbicara."
Berikut ini lima hal yang tidak boleh diucapkan orangtua kepada anak mereka:
"Aku tidak peduli."
Anak kecil senang bercerita tentang segala sesuatu. Tentang pembicaraan mereka dengan teman-temannya, bentuk awan yang mereka rasa mirip dengan ular laut, alasan mereka menekan seluruh isi pasta gigi ke dalam bak mandi.
Tetapi terkadang orangtua tidak ingin mendengarkan mereka. Jangan pernah mengatakan Anda tidak peduli dengan cerita mereka. Itu akan membuat anak-anak merasa tidak penting dan menghilangkan rasa percaya.
SARAN: Beritahulah anak Anda bahwa masalah itu bisa dibahas di lain waktu, ketika Anda dapat fokus pada pembicaraan sang anak. Tetapi jangan ingkar janji. Jangan lupa membahas.

“Kamu kan sudah besar!"
Putri Anda berusia 7 tahun tapi masih bertingkah selayaknya anak umur 3. Jangan pernah menyalahkan tingkahnya sembari mengatakan “Kamu kan sudah besar!” Ini akan membuat anak-anak merasa dikritik padahal mereka bisa saja sedang punya masalah dan butuh bantuan untuk menyelesaikannya.
SARAN: “Ketika Anda hendak bereaksi, ambillah jeda waktu sebentar,” kata Pincus. Pikirkan matang-matang dampak perkataan Anda, jadi bukan asal reaksi spontan. Jeda membantu menurunkan adrenalin sehingga otak bisa berpikir tanpa emosi.
"Minta maaf!"
Anak Anda merebut mainan temannya dan membuatnya menangis. Anda langsung memerintahkan sang anak untuk meminta maaf atas tindakannya. Anda memang bermaksud mulia, tetapi memaksa anak untuk meminta maaf tidak mengajari mereka kemampuan sosial, kata Bill Corbett, penulis buku dan pendidik.
Anak kecil tidak dapat langsung mengerti kenapa mereka harus meminta maaf. Bila selalu disuruh, mereka bisa saja makin lambat memahami alasan meminta maaf bila telah melakukan tindakan buruk
SARAN: Minta maaflah kepada anak kecil yang dibuat menangis oleh anak Anda, sehingga pada saat bersamaan Anda memberi dia contoh bagus kelakuan yang ingin ditanamkan.

"Masak nggak bisa juga?"
Anda mengajari anak menangkap bola lima kali berturut-turut, dan dia belum mahir juga. Atau, ketika belajar soal matematika, dia tak kunjung paham. Anda pun langsung bertanya “Masak nggak bisa juga?” Komentar ini akan menjatuhkan mental mereka.
Sebab, sebagaimana dikatakan pakar pembelajaran Jill Laurean, anak-anak akan menangkap pertanyaan itu dengan berbeda. Mereka akan mengira Anda bertanya “Kenapa nggak bisa juga? Apa yang salah dengan kamu sehingga nggak bisa?”
SARAN: Ambil waktu istirahat. Jika Anda sudah tidak tahu cara lain mengajari anak mengenai sesuatu, berhentilah. Lanjutkan pelajaran ketika Anda sudah siap untuk mencobanya lagi, mungkin setelah mencari pendekatan lain untuk mengajar apa pun yang sedang dipelajari anakmu.

"Ditinggal ya!"
Anak Anda menolak meninggalkan toko mainan atau taman, sementara Anda telat janjian. Jadi Anda memberikan ultimatum untuk menakut-nakuti dia: "Ditinggal ya!" Untuk anak yang masih kecil, ketakutan ditinggalkan orang tua adalah sesuatu yang sangat nyata. Tapi apa yang terjadi saat ancaman tidak berhasil? Anak dengan cepat belajar kalau ayah atau ibu memberikan ancaman kosong.
SARAN: Jangan bilang kepada anak bahwa Anda akan meninggalkan mereka. Sebaiknya, bikin rencana perjalanan (dari toko mainan ke tempat selanjutnya) sebelum berangkat dari rumah.